facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Features
    • Bisnis
    • Motivasi
    • Sejarah
    • Ekonomi
    • Inspirasi
    • Meet the People
    • Musik
  • Teknologi
  • About me
  • MyWork

Blog || Yoda Gunawan


TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mendorong program digitalisasi rantai pasok logistik untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

"Kekurangan kita adalah harus meng-upgrade logistic supply chain (rantai pasok logistik) dengan program digitalisasi," kata Erick dalam diskusi virtual bertajuk "Kesehatan Pulih, Ekonomi Bangkit" di Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Menurut dia, digitalisasi selain berfokus ke pertumbuhan perekonomian nasional juga membuka peluang pasar baru.

"Ada dua negara tetangga Asia yang punya potensi pasar luar biasa untuk menyerap apa yang diproduksi, yakni Cina dan India. Program mendukung ekonomi maritim adalah sebuah keberpihakan yang enggak perlu didebatkan," ujar dia.

Selain itu, lanjut dia, program akselerasi ekonomi dengan membuat sumber daya alam menjadi bernilai tambah (value added), contohnya di sektor energi.

"Apakah gasifikasi dilakukan convert-nya jadi DMA (dimetil eter) yang bisa menstok atau gantikan impor elpiji yang terus meningkat. Gasifikasi batubara adalah keberpihakan yang dilaksanakan, value creation untuk tambang-tambang kita harus ditingkatkan," ujarnya.

Erick menambahkan terkait lapangan kerja, ia berharap dengan adanya RUU Cipta Kerja bisa memastikan pembukaan lapangan kerja yang kini sangat tergerus karena banyak PHK akibat Covid-19.

Transformasi perpajakan serta percepatan pembangunan kawasan wisata juga perlu dilakukan dengan wisatawan lokal harus menjadi pusat pertumbuhan mengingat 90 persen wisatawan adalah lokal.

"Dengan kondisi Covid-19, sudah saatnya wisata lokal jadi fokus pengembangan dan enggak ada salahnya kita bersatu daripada buang-buang uang ke luar negeri, terus kasih duit buat luar negeri. Apa salahnya kita kasih duit buat ktia sendiri toh alam kita enggak kalah, kualitas barang kita enggak kalah dengan impor. Bali, Toba dan Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika, Likupang, kita akan terus pastikan berkembang," katanya.

Presiden Joko Widodo dalam pidato RUU APBN 2021 menyebutkan pembangunan infrastruktur tahun 2021 dianggarkan sekitar Rp 414 triliun yang utamanya untuk pemulihan ekonomi, penyediaan layanan dasar, serta peningkatan konektivitas.

"Pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa ketersediaan dan berfungsinya infrastruktur digital menjadi sangat penting dan strategis," kata Kepala Negara.

Dengan demikian, belanja infrastruktur diarahkan untuk penguatan infrastruktur digital dan mendorong efisiensi logistik dan konektivitas; infrastruktur padat karya yang mendukung kawasan industri dan pariwisata; serta pembangunan sarana kesehatan masyarakat dan penyediaan kebutuhan dasar, seperti air, sanitasi, dan permukiman. 


source


Hampir 20 tahun berkarier sebagai jurnalis dan pemandu acara bincang-bincang, sudah tak terhitung jumlah tokoh yang diwawancarai oleh Najwa Shihab. Mulai dari tokoh politik, presiden, artis, hingga atlet dunia seperti David Beckham.

Dalam setiap aksinya, tuan rumah Mata Najwa ini kerap melontarkan pertanyaan - pertanyaan 'mematikan', dan tak sedikit narasumber yang dibuat kelabakan, apalagi para politisi atau penyelenggara negara. Dengan pembawaan yang tegas, Najwa tak ragu menyelipkan kritik dalam setiap pertanyaan yang ia lontarkan.

Tak heran wajahnya yang sering tampil di televisi dan dikenal sebagai sosok yang lugas dan kritis, kini telah menjelma menjadi sosok idola baru. Kepiawannya dalam meramu dan melontarkan pertanyaan dalam sesi talk show menjadi aksi tersendiri yang dinanti-nanti oleh penonton di seluruh Indonesia.

Tentu banyak yang penasaran apa formula sukses Najwa Shihab saat berhadapan dengan narasumbernya. Sebagai sosok Role Model pilihan kumparanWOMAN, Najwa Shihab pun berbagi tiga cara ampuh untuk meramu pertanyaan wawancara yang tajam. Apa saja?

1. Berpikir kritis

Rupanya kelihaian Najwa dalam meramu pertanyaan tajam kepada narasumbernya tak terlepas dari latar belakang disiplin ilmu yang ia miliki yakni ilmu hukum.

“Mungkin karena latar belakang saya di sekolah hukum, saya memang dilatih untuk jadi seorang pengacara. Dan di dunia hukum itu seorang pengacara diajarkan untuk never ask the question when you don’t know the answer. Jadi saya menerapkan hal itu dalam sesi wawancara saya. Saya tidak akan pernah bertanya sesuatu yang saya tidak tahu jawabannya,”
ungkap Najwa

 saat wawancara dengan kumparanWOMAN untuk program Role Model.

    Baginya hal tersebut sangat mempengaruhi dirinya dalam berpikir kritis, khususnya sebagai pemandu bincang-bincang bidang politik.

2. Riset

         Selanjutnya hal mendasar yang amat penting dilakukan untuk meramu pertanyaan yang tajam dari Najwa adalah dengan melakukan riset mendalam terlebih dahulu.

“Riset menjadi kunci yang paling penting, jadi harus tahu mendalam terkait topik yang ingin dibahas. Harus paham dengan karakter lawan bicara kita, terutama saat menghadapi politisi sebagai orang yang kerap kali menyembunyikan kejelasan atau melebih-lebihkan sesuatu untuk menunjukkan kepentingannya,” 
           - Najwa.

           Lebih lanjut Najwa mengungkapkan sebagai seorang jurnalis atau pemandu bincang-bincang juga harus lihai dalam melacak rekam jejak narasumber yang akan diwawancara.

“Saat mewawancarai politisi saya terbiasa melacak apa pernyataan yang sebelumnya pernah mereka ucapkan terhadap isu tertentu. Jadi saat mereka plin-plan atau berubah-ubah, saya bisa tahu,”                    
 ungkapnya.

3. Jangan hanya bertanya, 
tapi juga menguji pernyataan


     Mengutip ungkapan seorang presenter BBC, be brave but don’t be stupid. Bagi Najwa sebagai seorang jurnalis haruslah berani tapi jangan jadi bodoh. Anda harus benar-benar menguasai apa yang akan dibahas.

“Kalau bicara soal talkshow, saya percaya itu bukan hanya sekadar acara tanya jawab. Misal A dijawab B. Talkshow itu adalah sebuah perbincangan, pertukaran dua ide. Jadi kita yang bertanya harus minimal ada pada frekuensi yang sama dengan orang yang kita tanya,” 

papar Najwa.
    

  Menurut Najwa sebagai seorang jurnalis, tak boleh hanya sekadar bertanya, tapi juga menguji pernyataan. Kemudian harus menunjukkan fakta-fakta yang berbenturan. Karena jika kita hanya melontarkan pertanyaan tanpa memiliki pinned point fakta sebelumnya, kita tidak melakukan pekerjaan kita dengan baik.

Sumber :Kumparan


Wartawan Tribun Network Reza Deni Saputra sempat mewawancarai Nadiem Makarim secara singkat setelah acara pisah-sambut di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).


Berikut ini petikan wawancara dengan Gojek tersebut.
Sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, apa tantangan yang Anda dan kementerian ini hadapi ke depannya?

Tantangan ke depan itu terutama skalanya. Kita punya sistem pendidikan terbesar keempat di dunia. Tiga ratus ribu sekolah itu luar biasa. Jumlah muridnya, jumlah gurunya, jumlah pemerintah daerahnya dan semuanya tersebar di archipelago terbesar kedua di dunia, yaitu Kepulauan Indonesia. Jadi, challenge utamanya adalah skala.


Tadi Anda bilang rencana 100 hari kerja Anda mau belajar lebih dulu. Kira-kira berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk belajar?

Cepat. Saya pasti cepat belajarnya.

Anda besar di dunia bisnis digital, kemudian ke pendidikan sebagai menteri. Apakah hal yang Anda geluti dulu akan dibawa dan dimanfaatkan?

Sudah pasti peran teknologi akan ada di situ, tetapi dalam bentuk apa, kita belum pasti. Hal yang terpenting adalah kita mulai bukan dengan aksi, tapi belajar terlebih dulu dengan semua stakeholder yang ada.
Bukan berarti ini memakan waktu lama, tapi step pertama adalah jangan selalu memberikan solusi terlebih dulu. Pertama harus seperti murid yang baik.
Belajar lebih dulu, mengetahui seperti apa kondisi lapangan, kondisi guru, kondisi murid serta kondisi birokrasi dan administrasi.
Dari situ baru kita menemukan solusi-solusi, baik teknologi maupun nonteknologi, yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan kita.

Dalam jajak pendapat dengan DPR ada nilai serap di Kemendikbud yang kurang maksimal. Kira-kira bagaimana ke depannya?
  
Kalau soal itu saya belum bisa mengomentari karena belum saya dalami lebih lanjut, tapi tentunya optimalisasi bujet APBN itu penting sekali.
Kita harus memastikan semua rupiah yang kita keluarkan untuk negara ada benefit-nya, terutama di pendidikan.

Soal kebudayaan, apakah Anda sudah punya rencana terobosan?
Saya belum bisa bilang terobosannya seperti apa, tapi yang jelas berhubung saya milenial dan background-nya teknologi, sudah pasti ada perubahan ke arah sana. Saya belum bisa mention apa rencana yang saya lakukan. Hal yang sudah jelas adalah kita ingin fokus kepada manusia yang keluar dari sistem pendidikan ini seperti apa. Satu, harus berkarakter, merupakan suatu sistem pendidikan berdasarkan kompetensi, bukan informasi saja. Kedua, harus relevansi.

Presiden selalu bilang link and match antara industri dan institusi pendidikan. Skill-skill tersebut yang kita pelajari harus relevan. Tentunya prinsip utamanya yaitu gotong-royong dan kolaborasi. Kita tidak bisa melakukan ini sendirian, harus ada gotong-royong. Pusat dan daerah, orangtua, guru, murid, semua harus gotong-royong menciptakan institusi dan kualitas pendidikan yang lebih baik.

Sumber : Tribun Jateng
Older Posts

My Youtube Playlist

About


Hello, There!

Blog ini dibuat sepuluh tahun lalu tepatnya di tahun 2010 ketika admin masih Kuliah tingkat awal, Sepuluh tahun berlalu berawal dari belajar mengenai tata kelola blog yang baik dalam bentuk HTML dan CSS meskipun masih belajar, mohon maaf jika masih ada beberapa artikel yang bukan merupakan original buatan dari admin ,dimana disadur dari beberapa portal web namun tetap mencantumkan sumber artikel bersangkutan



LET’S BE FRIENDS

Trending

Tata Kelola Keuangan untuk UMKM

Labels

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • inspirasi
  • Meetthepeople
  • Motivasi
  • Musik
  • Sejarah
  • Sosial Politik
  • Teknologi

YouTube channel

youtube image

Instagram

@INSTAGRAM
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates