facebook twitter instagram linkedin
  • Home
  • Features
    • Bisnis
    • Motivasi
    • Sejarah
    • Ekonomi
    • Inspirasi
    • Meet the People
    • Musik
  • Teknologi
  • About me
  • MyWork

Blog || Yoda Gunawan


 

Mulutnya ‘sompral’. Kata becandaan, kayak nggak pernah sekolah. Tentu saja, korelasi kata-kata kotor itu, tidak begitu penting dalam kesenian.

Album debut dari Jason Ranti ini berbahaya. Di balik kesederhanaan aransemen yang bertopang pada permainan gitar, Jason mengisi bagian lirik dengan sesuatu yang tajam. Jason berhasil mengangkat ke tataran yang lebih luas kegelisahan-kegelisahan minoritas dan penganut akal sehat yang pada saat ini posisinya termarjinalkan, lantaran berbagai sulutan isu SARA dan persoalan politik yang merembet ke mana-mana.

Secara lantang Jason membicarakan hal-hal yang membuat dirinya gelisah, dengan terdengar jujur tanpa tendensi mencari sensasi. Simak saja bagaimana dia menyajikan logika terbalik pada singel “Bahaya Komunis”, juga lirik pedas menyorot para pejabat korup yang berjubah seorang alim lewat lagu “Suci Maksimal”.

Jason mampu mengangkat persoalan zamannya dengan cara cerdas, sekaligus mengembalikan fitrah musik folk sebagai musik rakyat – tanpa senja, tanpa hujan, tanpa pegunungan, folk talks about the ugly truth. Musik yang menyuarakan kegelisahan rakyat. Tentu merujuk pada rakyat yang hidup dengan logika, dan punya keinginan kuat untuk hidup rukun dengan mengesampingkan ego-ego sektoral.

Jika sebelumnya, keindahan ketidakteraturan itu hanya bisa dirayakan lewat serangkaian pertunjukan langsung, maka sekarang bisa via memutar albumnya kapanpun. Tentu, rumusan bahwa pertunjukan langsung dan rekaman album adalah dua ranah yang berbeda, bisa diaplikasikan dengan baik dalam kasus Jason Ranti.

Jason Ranti berbicara tentang kehidupan manusia di luar wilayah brightside; hamil di luar nikah, seks bebas, narkoba, depresi, social climber, minuman keras, obat terlarang, dan banyak hal. Kesimpulan yang bisa diambil: menjadi nakal dalam hidup itu sah-sah saja. Dan nakal, punya pembeda yang jelas dengan jahat. Ia merekam proses kehidupan yang telanjang. Dari sebelas lagu yang ada di rekaman ini, nampak ia sangat dekat dengan masing-masing ceritanya.


Kalau diperhatikan dengan baik, lagu-lagu yang nampak serampangan ini digarap dengan riset yang sangat memakan waktu, karena mengalami proses melihat ulang dan benar-benar dipikirkan struktur katanya. Di permukaan nampak sederhana, tapi proses di balik layarnya pasti melalui proses-proses detail dan tekstural. Jason tampaknya benar-benar menguliti sebuah persoalan dan kemudian menyajikannya, sehingga kemudian efek hiburan menyergap kita yang mendengarkannya. 

Sumber




 'Life on Mars' adalah lagu yang pertama kali di ciptakan oleh David Bowie d'i rilis di tahun 1971 dimasukan dalam album 'Hunky Dory' menjadi sebuah lagu yang di nyanyikan oleh beberapa musisi lintas generasi. 

Lirik dalam lagu ini seakan ingin menyampaikan sebuah keadaan miris yang imaginatif dimana pada awal bait pada lagu ini :

"It's a God-awful small affair
To the girl with the mousy hair
But her mummy is yelling no
And her daddy has told her to go
But her friend is nowhere to be seen
Now she walks through her sunken dream
To the seat with the clearest view
And she's hooked to the silver screen
But the film is a saddening bore
For she's lived it ten times or more
She could spit in the eyes of fools
As they ask her to focus on"


Menceritakan seorang gadis dengan rambut tipis seperti bulu tikus yang aneh 'Moussy Hair' ,yang ditolak oleh ayahnya untuk pergi dan tidak memiliki teman , namun akhirnya memiliki karir yang bagus sebagai seorang bintang film. 

Hal yang menjadi ironi adalah karirnya sebagai bintang film yang cukup baik  ternyata tidak memberikan kebahagiaan untuk dirinya.

lirik pun beralih ke metafora para pelaut yan bertarung di aula dansa,dan menceritakan sebuah pertunjukan gila ,dan juga seorang ahli hukum yang memberikan keputusan hukum yang salah , dan semuanya tidak menyadari mereka ada dalam sebuah 'freak show' karena Tuhan sedang bercanda di bait pertama 'It's a God-awful small affair'; adapun liriknya :

"Sailors fighting in the dance hall
Oh man, look at those cavemen go
It's the freakiest show
Take a look at the lawman
Beating up the wrong guy
Oh man, wonder if he'll ever know
He's in the best selling show
Is there life on Mars?
It's on America's tortured brow
That Mickey Mouse has grown up a cow
Now the workers have struck for fame
'Cause Lennon's on sale again
See the mice in their million hordes
From Ibiza to the Norfolk Broads
Rule Britannia is out of bounds
To my mother, my dog, and clowns"

sebuah kisah satir yang di masukan kedalam lagu , cukup banyak metafora dalam lagu ini yang dibalut dengan melodi musik opera dengan instrumen piano yang 'cerdik'.
Bisa dikatakan jika tiap oran bisa menafsirkan banyak hal dari lagu ini berdasarkan interpretasi tiap oran masing-masing, atau mungkin lagu ini ingin menceritakan sebuah kenyataan yang menyedihkan , akan kebosanan untuk tinggal di bumi yang pernuh dengan intrik ;Who knows ?
Adapun lagu ini sempat di cover beberapa artis dan musisi lintas generasi di antaranya   :
1. Anggun C Sasmi di acara USA TV Show "Session at West 54th" di tahun 1998
    



 Lagu ini sempat dinyanyikan oleh Anggun C sasmi di awal karirnya di tahun 1998 untuk publik internasional, dengan karakter vokalnya yang khas namun tetap menggunakan komposisi musik original dari lagu aslinya.
2. Jessica lange dalam 'American Horror Story' Freak Show


    Ya, seakan saling melengkapi antara  TV series  dan lagunya, cover untuk lagu ini seakan akan saling mengintrepretasikan satu sama lain .
3. Jimmy fallon dan Chris Martin 


      Momen ini menjadi sebuah tribut atas kematian  David Bowie di tahun 2016, dan menjadi sebuah momen yang sangat di ingat oleh audiens Tonight show starring Jimmy Fallon  , namun hal yang sangat di sayangkan adalah video ini telah di take down oleh youtube. 
4. Aurora di tahun 2016 pada acara NRK SHOW Norway
     Aurora nama musisi yang di tahun 2020 ini cukup di perhitungkan di kancah musik internasional , yang sempat mengisi original soundtrack  untuk film Disney  'Frozen 2' ;dengan suara khasnya yang mirip dengan musisi senior 'Enya'. Yang cukup menejutkan adalah pada momen ini Aurora sendiri yang bermain piano dan vokal tanpa bantuan instrumen lain , dimana biasanya Aurora jarang untuk memperlihatkan kemampuan bermain musik yang dimilikinya;dan pemilihan instrumen music Synthesizer sangat cerdas untuk menyesuaikan dengan karakter Vokal Aurora pada momen ini. 

      Semua cover yang pernah dilakukan oleh musisi ternama ini , beberapa adalah sebuah momen tribut untuk penyanyi legendaris 'David Bowie' tapi ada juga yang melengkapi tema satu sama lain contohnya dalam TV Series AHS : Freak Show . Sepertinya hingga hari ini lagu ini menjadi sebuah Anthem  untuk sebuah kritik atas keadaan Sosial yang ada dimasyarakat dari tiap Generasi.

       Kira kira apa opini kamu tentang lagu ini ? dan beberapa covernya ?

(Original Post/Yoda /2020)

 


 

Tashoora, beri rasa segar untuk industri musik Indonesia seperti orkestra yang dibuat padat oleh enam orang.

Oleh: FEK.

Sekitar kuartal ketiga tahun 2018, sedang surfing di YouTube untuk mendengarkan lagu FSTVLST  berjudul “Orang-Orang Di Kerumunan”. Munculah di eksplor, sebuah band yang meng-coverlagu tersebut bernama Tashoora. Dengan gambar thumbnail yang menampilkan salah satu personilnya menggunakan biola. Cukup menarik dan mungkin akan sangat berbeda dengan versi aslinya. Benar saja, ketertarikan yang tinggi langsung menuju ke band ini.

Kelompok musik yang terdiri dari enam orang, pemain gitar (Danang & Sasi), drum (Mahesa), bass (Gusti), biola (Danu), akordion (Dita) dan kelima dari mereka menjadi pengisi vokal, ngga ada yang dominan! Mungkin sebuah penyegaran dalam skena musik Indonesia, karena cukup jarang saya melihat atau mendengar band seperti Tashoora.

Baca Juga: Merakit – Yura Yunita

Setelah mendengarkan alunan musik yang mereka bawakan, isi kepala langsung berpikir kalau Yogyakarta sepertinya ngga akan pernah kehabisan barisan musisi berkualitas.

14 Desember 2018, sebuah mini album akhirnya rilis bertajuk Ruang. Album Ruang – Tashoora ini direkam secara live saat mereka menggelar private showcase di sebuah lembaga pendidikan kesenian non-formal Yogyakarta, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Tenang aja, walaupun direkam secara live, hasil produksi mereka amat lah baik seperti direkam di sebuah studio rekaman. Bingung untuk menyebutkan genre dari Tashoora, tapi saya menyebut mereka seperti orkestra yang dimainkan oleh enam orang. Padat!

Salah satu cara menikmati musik adalah dengan memejamkan mata. Ketika hal tersebut dilakukan saat mendengarkan lagu-lagu mereka, saya seperti sedang menikmati sebuah orkestra mini di sebuah hall mini atau di sebuah pendopo outdoor yang ditemani semilir angin sore hari.

Setelah mengulik tentang mereka dan mini album yang berisi lima lagu ini, konsep mereka terdengar cukup matang. Sekitar setahun pertama menggodok habis proses pembuatan lagu, mulai dari pembuatan lirik sampai aransemen di studio. Setelahnya, baru mereka tampil di depan khalayak untuk memperkenalkan musik yang mereka bawa.

Kelima lagu mereka berjudul “Tatap,” “Nista,” “Sabda,” “Terang,” dan “Ruang” adalah sebuah representasi situasi sosial yang mereka rasakan di Yogyakarta ataupun di Indonesia. Seperti pada lagu “Sabda” yang merupakan kritis sosial terhadap kebijakan pemerintah daerah Yogyakarta yang terdapat label pribumi dan non-pribumi. Tentu saja lirik yang mereka gunakan adalah diksi-diksi khas musisi. Selain itu, tema lain yang dibawa adalah tentang isu agama yang sering dimanfaatkan oleh penguasa pada lagu “Terang,” kasus penistaan agama sampai isu LGBTQ.


Dilansir dari medcom.id, Gusti menyebutkan “Kami memperlakukan vokal sebagai instrumen. Kebetulan tipe suara kami mengisi ruang yang kosong di antara instrumen.” Saya pikir ini benar! Suara vokal mereka mengisi ruang kosong antara instrumen musik. Jadi musik yang mereka hasilkan terdengar sederhana tapi padat dan kaya! 

Jarang saya dengar, musik seperti yang dilakukan Tashoora atau mungkin pengetahuan musik saya yang masih kurang.

Love Me/Love Me Not – HONNE

Sumber

 

Spacerock dari Kelompok Penerbang Roket yang berugal-ugalan di luar angkasa.

    Kelompok Penerbang Roket adalah salah satu band yang penampilannya sangat ditunggu oleh penggemarnya untuk ugal-ugalan di moshpit. Tentunya penggemar trio rock asal ibukota ini haus akan materi-materi baru dari Coki, Rey, dan Viki. Pasalnya, terakhir kali merilis album yaitu pada pertengahan 2015 yang bertajuk HAAI.


    Pada malam Halloween 2018, mereka akhirnya merilis mini album Galaksi Palapa. Setelah mengetahui judul albumnya, imajinasi langsung membawa saya seolah mereka bertiga terbang ke luar angkasa menggunakan roket milik Elon Musk untuk melihat peperangan Star Wars secara langsung. Entah mengapa dan terdengar cukup sotoy. Ya, imajinasi saya tentunya melenceng dari cerita sebenarnya yang dimaksudkan album ini.


    Sebagai penikmat kemudahan aplikasi music streaming, saya cukup kesal dengan tidak tersedianya album terbaru mereka di layanan tersebut. Karena itu, saya langsung mencari tahu alasannya. Ternyata memang album ini sengaja dibuat dalam bentuk CD dan vinyl saja untuk lebih menikmati musik bersamaan dengan ilustrasi yang dibuat oleh Agung Budi, seorang seniman muda asal Banjarmasin.

Baca Juga: O.M – Mooner


    Tentunya eksplorasi dilakukan musisi untuk setiap album barunya. Hal tersebut juga dilakukan oleh Kelompok Penerbang Roket. Semakin ke sini saya rasa KPR membawa nuansa psychedelic yang semakin kental tapi tetap dalam ranah rock. Ditambah pula alunan-alunan space rock yang semakin memastikan bahwa mereka ingin berugal-ugalan di luar angkasa. Sebut saja pada lagu pembuka album ini yang berjudul “Ekspedisi 69.” Sebuah instrumental dan angka dari judul tersebut yang cukup ‘bagus’.


    Begitu juga pada lagu “Dusta”, “Ironi” serta “Berita Angkasa” yang direkam ulang. Tidak lupa dengan lagu “Alpha Omega,” tanpa hentakan drum yang lirik dan permainan synthesizer dilakukan oleh Viki. Album ini sangat layak untuk dibeli karena ilustrasi yang dibuat oleh Agung sangat cocok untuk dinikmatisecara berbarengan. Ilustrasinya dibuat dalam bentuk booklet seperti sebuah komik dengan alur cerita tanpa ada percakapan.


    Konsep album ini terlihat cukup matang dari segala aspek mulai dari perilisannya yang hanya dalam bentuk fisik serta dari promosinya seperti dokumenter pembuatan  Galaksi Palapa yang ditayangkan di beberapa kota, sampai terakhir adalah video live session terkonsep secara visual sebagai representasi dari cerita album ini yang diberi tajuk BA-11A: Opera di Galaksi Palapa.

Verdict: 7.5/10.
Siap menunggangi roket untuk pencarian planet baru?



penulis :

Ruang - Tashoora

 



Rock and roll (sering ditulis sebagai rock 'n' roll) adalah genre musik yang berkembang di Amerika Serikat di akhir tahun 1940-an, dan mencapai puncak kepopuleran di awal tahun 1950-an. Dari Amerika Serikat, genre musik ini tersebar ke seluruh dunia. Rock and roll melahirkan berbagai macam subgenre yang secara keseluruhan dikenal sebagai musik rock.

 

Ciri khas rock and roll adalah pada ketukan (beat) yang biasanya dipadu dengan lirik. Rock and roll menggunakan beat yang didasarkan salah satu ritme musik blues yang disebut boogie woogie ditambah aksen backbeat yang hampir selalu diisi pukulan snare drum. Versi klasik dari rock and roll dimainkan dengan satu atau dua gitar listrik, gitar bas listrik, dan drum set. Perangkat kibor sering dimainkan sebagai alat musik tambahan. Bila dimainkan dengan dua gitar listrik, gitar listrik yang dimainkan untuk memberi melodi disebut guitar lead, sedangkan gitar untuk memberi ritme dan harmoni disebut gitar ritme. Saksofon sering dijadikan instrumen melodi pada gaya rock and roll awal tahun 1950-an, tapi digantikan perannya oleh gitar elektrik di pertengahan tahun 1950-an. Di akhir tahun 1940-an, bentuk awal rock and roll bahkan memakai piano sebagai instrumen melodi. Salah satu cikal bakal rock and roll adalah musik boogie woogie dengan piano sebagai melodi, seperti permainan musik berbagai kelompok big band yang mendominasi dunia musik Amerika dekade 1940-an. Kepopuleran rock and roll secara massal dan mendunia ternyata menimbulkan dampak sosial yang tidak terduga. Rock and roll bukan saja mempengaruhi gaya bermusik, tapi sekaligus gaya hidup, gaya berpakaian, dan bahasa. Selain sukses di dunia musik, bintang-bintang di periode awal rock and roll juga sukses di dunia film dan televisi. Elvis Presley, misalnya merupakan bintang rock and roll yang sukses sebagai bintang film dan televisi.

 

Istilah slang "rock and roll" sering dipakai orang berkulit hitam untuk menyebut "hubungan seks". Penyanyi wanita Trixie Smith pertama kali menggunakan istilah "rock and roll" dalam lagu "My Baby Rocks Me With One Steady Roll" yang diedarkan tahun 1922.

Asal-usul

Rock and roll mulai muncul sebagai gaya baru dalam bermusik di Amerika pada akhir tahun 1940-an sebagai percabangan musik country dan western produk budaya orang Amerika berkulit putih, dan musik rhythm and blues (R&B) yang merupakan produk budaya orang Afrika-Amerika. Unsur-unsur rock and roll sebenarnya sudah bisa didengar pada lagu-lagu country tahun 1930-an dan lagu-lagu blues dari tahun 1920-an. Walaupun demikian, genre musik yang baru ini tidak disebut "rock and roll" hingga di tahun 1950-an. Bentuk awal rock and roll adalah rockabilly yang memadukan unsur-unsur R&B, blues, jazz, dan dipengaruhi musik folk Appalachia serta musik gospel. Bila ditelusur lebih jauh lagi, cikal bakal musik rock and roll bisa ditemukan di daerah slum Five Points, kota New York pada pertengahan abad ke-19. Di daerah tersebut untuk pertama kalinya terjadi percampuran antara tari Afrika yang ritmis dengan musik Eropa, khususnya musik untuk tari rakyat jig asal Irlandia yang sangat melodius.

 

Penyanyi gospel berkulit hitam dari daerah Selatan Amerika Serikat menggunakan istilah "rocking" untuk menyebut sesuatu yang mirip dengan proses pengangkatan yang akan dialami orang yang percaya di akhir zaman. Istilah "rocking" pada akhir dekade 1940-an menjadi bermakna ganda, "menari" dan juga "seks", seperti pada lirik lagu "Good Rocking Tonight" yang dibawakan pemusik blues Roy Brown. Lagu seperti ini biasanya hanya diputar stasiun radio yang menyiarkan musik orang Afrika-Amerika dan jarang didengar kalangan orang berkulit putih.

 

Pada dekade 1920-an dan 1930-an, orang kulit putih di Amerika banyak menyenangi pemusik berkulit putih yang memainkan musik jazz and blues milik orang Afrika-Amerika. Musik yang sama namun bila dimainkan pemusik berkulit hitam justru sering tidak mendapat sambutan. Pemusik R&B berkulit hitam yang digemari orang berkulit putih cuma sedikit, di antaranya yang menonjol adalah Louis Jordan, Mills Brothers, dan The Ink Spots. Semasa lagu-lagu baru belum banyak diciptakan, lagu hit di awal era rock and roll banyak merupakan rekaman ulang dari lagu R&B atau blues yang sudah dikenal sebelumnya. Genre musik blues nantinya terus memberi inspirasi bagi para pemusik rock. Pemusik blues bergaya Delta blues seperti Robert Johnson dan Skip James menjadi inspirasi bagi pemusik rock Inggris The Yardbirds, Cream, dan Led Zeppelin.

 

Di tahun 1951, Alan Freed, seorang DJ di Cleveland, Ohio mulai memutar jenis musik yang diperkirakannya bisa disukai pendengar dari berbagai kalangan dan ras. Alan Freed disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali menggunakan istilah "rock and roll" untuk musik R&B yang gembira dan energetik. Sewaktu bekerja sebagai DJ di stasiun radio WJW di Cleveland, Alan Freed mengadakan konser rock and roll yang pertama. Konser dilangsungkan 21 Maret 1952 dan diberi nama "The Moondog Coronation Ball". Acara dihadiri penonton yang sebagian besar orang Afrika-Amerika, tapi harus diakhiri sewaktu baru saja mulai karena penonton yang luar biasa padat. Setelah konser yang pertama sukses, Alan Freed terus mengadakan berbagai pertunjukan rock and roll yang banyak ditonton orang berkulit hitam dan berkulit putih. Pertunjukan seperti ini membantu penyebaran gaya musik Afrika-Amerika di berbagai kalangan.

 

Pengamat musik sering berdebat mengenai pemusik yang berhak dicatat sebagai pembuat rekaman rock and roll yang pertama. Sister Rosetta Tharpe sudah merekam musik yang penuh dengan teriakan dan hentakan di tahun 1930-an dan 1940-an. Gaya bermusiknya mirip dengan ciri khas rock and roll di pertengahan tahun 1950-an. Sister Rosetta sudah menduduki tangga lagu pop di tahun 1938 dengan lagu-lagu berirama gospel seperti "This Train" dan "Rock Me", serta dilanjutkan di tahun 1940-an dengan "Strange Things Happenin Every Day", "Up Above My Head", dan "Down By The Riverside". Pemusik lain yang menyanyikan lagu gospel/blues dengan iringan piano boogie adalah Big Joe Turner dengan "Roll 'em Pete". Lagu ini direkamnya di tahun 1939, tapi hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan gaya rock and roll tahun 1950-an. Artis yang merilis rekaman mirip rock and roll pada dekade 1940-an dan awal tahun 1950-an, di antaranya: Roy Brown ("Good Rocking Tonight", tahun 1947), Paul Bascomb ("Rock and Roll", 1947), Fats Domino ("The Fat Man," 1949), Big Joe Turner ("Honey, Hush", 1953, dan "Shake, Rattle and Roll", 1954), serta Les Paul and Mary Ford ("How High the Moon," 1951).

 

Artikel majalah Rolling Stone terbitan tahun 2004 menyatakan singel pertama Elvis Presley produksi Sun Records yang berjudul "That's All Right (Mama)" adalah rekaman rock and roll yang pertama.[1]. Sementara itu, lagu hit "Bo Diddley" dan "I'm A Man" oleh Bo Diddley dikatakan sebagai perintis beat baru yang menghentak, serta memperkenalkan cara bermain gitar yang unik dan menjadi inspirasi bagi pemusik lain.

 

Lagu "Rock Around the Clock" oleh Bill Haley adalah lagu rock and roll pertama yang menduduki puncak tangga lagu majalah Billboard untuk angka penjualan dan jumlah pemutaran lagu (airplay) di radio. Bill Haley membuka pintu bagi gelombang baru kebudayaan pop yang disebut rock and roll. Pemusik-pemusik lain yang menciptakan lagu hit di periode awal rock and roll adalah Chuck Berry, Little Richard, dan kelompok vokal bergaya doo-wop. Sementara itu, di dunia musik pop berjaya para penyanyi yang sudah menjadi bintang sejak dekade sebelumnya, misalnya Eddie Fisher, Perry Como, dan Patti Page. Di periode awal rock and roll, mereka mulai menemui kesulitan menempatkan lagu-lagu pop di tangga lagu akibat terhalang lagu rock and roll.

 

Musik rock and roll dan boogie woogie keduanya menggunakan satu bar (birama) delapan ketuk dan sama-sama memainkan progresi kord blues 12-bar. Walaupun demikian, rock and roll lebih menekankan pada backbeat dibandingkan boogie woogie. Little Richard memadukan piano boogie-woogie dengan backbeat yang berat dan menyanyikannya dengan suara berteriak akibat terpengaruh gaya menyanyi musik gospel. Pemusik seperti Ray Charles dan Smokey Robinson memuji gaya bernyanyi Little Richard yang dikatakannya membawa warna baru dalam musik. James Brown memuji Little Richard sebagai pemusik yang pertama kali memasukkan unsur musik funk ke dalam beat rock and roll. Elvis Presley turut menyebut Little Richard sebagai sumber inspirasi. Walaupun demikian, perpaduan unsur-unsur musik seperti yang dilakukan Little Richard bukan hal yang baru. Sebelum Little Richard, sudah banyak sekali pemusik yang melakukan hal yang sama, misalnya Esquerita, Cecil Gant, Amos Milburn, Piano Red, dan Harry Gibson. Gaya liar Little Richard dalam berteriak dan menyerukan "wuuu wuuu," sebenarnya sudah digunakan Marion Williams dan banyak lagi penyanyi gospel wanita di tahun 1940-an. Roy Brown juga sudah meneriakan "yoooooww" jauh sebelum Richard melakukannya dalam lagu "Ain't No Rockin no More".

OLEH Alm.DENNY SAKRIE




Singkirkan cadar ragu
Singsingkan fajar baru
Mari kita bersatu
Di dalam setiap nafasmu
(“Geger Gelgel” Guruh Soekarno Putera 1975)

Sepulang dari lawatan musik di  New York Amerika Serikat antara tahun 1973-1974 , dua bersaudara Keenan Nasution dan Gauri Nasution mulai banyak berhubungan dengan Guruh Soekarno Putera.Gauri Nasution  dan Guruh Soekarno Putera sebetulnya merupakan dua sahabat lama.Mereka berdua merupakan  teman sekelas saat sama sama bersekolah di Yayasan Perguruan Cikini Jakarta Pusat

”Guruh memang memiliki visi berkesenian yang tinggi.Dia menguasai tari,musik dan juga teater barangkali ” puji Gauri Nasution yang kini menekuni profesi sebagai perancang grafis .Mereka yaitu  Guruh,Gauri dan Keenan Nasution  ternyata tengah kasak kusuk melakukan  rencana proyek musik yang beratmosfer eksperimental.

Guruh Soekarno Putera yang baru saja tiba dari Belanda setelah berinisiatif tidak melanjutkan kuliahnya disana,didera gelisah ingin menampilkan sebuah proyek musik yang  menampilkan musik tradisional Indonesia yang bersanding dengan musik Barat.

“Saya memang terobsesi ingin melakukan semacam percampuran budaya ini.Saya pernah mendengar Debussy memasukkan gamelan atau pun orang Kanada Collin Mc Phee yang juga bereksperimen dengan gamelan” tutur  Guruh Soekarno Putera di kediamannya di Jalan Sriwijaya 26 Jakarta Selatan.
Terkadang kita memang seolah terlambat berkreasi dibanding  pemusik Barat.Collin McPhee di tahun 1937 telah menghasilkan karya “Tabuh-tabuhan” yang menggabungkan perangai musik tradisional Bali dengan musik Klasik Barat.

Guruh sendiri selama dua tahun sempat belajar arkeologi pada Universiteit Van Amsterdaam Belanda. Tapi entah kenapa justeru semangatnya berkesenian justeru kian semakin membuncah dan kian menggelegak.Bahkan dipicu pula dengan semangat nasionalisme yang tinggi yang meletup-letup .Di mata Guruh,mungkin dia hanya melihat warna merah dan putih.Dwiwarna inilah yang menyelubungi jiwa seninya.

Di Belanda,Guruh SoekarnoPutera pernah bersua dengan Pandji, Direktur Konservatorium Bali yang kebetulan tengah menimba ilmu pula. Atas gagasan Pandji, Guruh Soekarno Putera pun menampilkan kemampuannya menabuh gamelan dan menari.Selanjutnya kelangsungan komunitas penabuh gamelan Bali yang dibentuk Pandji diserahkan pada Guruh Soekarno Putera.
Guruh memang telah terbiasa dengan kebudayaan Bali.Ketika masih bersekolah di Perguruan Cikini,Guruh pun telah mempelajari kesenian Bali secaratekun dan seksama pada I  Made Gerindem di Ubud Bali.

Bagi Gauri Nasution  dan Keenan Nasution seni musik Bali bukanlah sesuatu  yang asing lagi.
Pada tahun 1966-1968 bersama Sabda Nada mereka sudah terbiasa bereksperimen menggabungkan musik Barat dengan gamelan Bali yang di arahkan oleh I Wayan Suparta.
Hal serupa pun mereka lakukan ketika Gipsy tampil di Restauran Ramayana New York   pada tahun 1973.

Lalu di tahun 1974 setelah mundur dari formasi God Bless,Keenan Nasution (drums,vokal) mengajak Oding Nasution (gitar),Debby Nasution (bass),Abadi Soesman (synthesizers) dan Roni Harahap (piano,keyboards) untuk membentuk kembali formasi Gipsy yang sudah tidak aktif manggung dengan bereksperimen memadukan musik rock dan gamelan Bali yang dimainkan oleh kelompok yang dipimpin  Syaukat Suryasubrata.



“Saya masih ingat saat itu kita bereksperimen membawakan “Topograpic Oceans” nya kelompok Yes tapi pada beberapa segmen justeru dimainkan dengan membaurkan musik gamelan Bali” cerita Abadi Soesman.
Pertemuan antara Keenan Nasution dan Guruh Soekarno Putera akhirnya membuahkan kesepakatan untuk membuat sebuah eksperimen musik bertajuk Bali Rock.

Keenan  Nasution dan Guruh pun akhirnya memulai proyek ini dengan menghubungi Pontjo Sutowo sebagai penyandang dana.Pontjo bersedia membantu proyek ini.”Untuk musik saya memang selalu bersedia membantu,meskipun proyek musik idealis semacam ini membutuhkan biaya banyak dan siap merugi” ungkap Pontjo Sutowo yang ditemui di kantornya di Sultan Hotel Jakarta.
Memasuki bulan Juli 1975 rekaman yang kemudian diberi nama Guruh Gipsy mulai dilakukan di Laboratorium Pengembangan dan Penelitian Audio Visual Tri Angkasa,sebuah studio rekaman dengan fasilitas kanal 16 track pertama di Indonesia yang berada di kawasan Jalan Hang Tuah Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Penggarapan album ini cukup panjang dan berakhir pada November 1976. Menurut Guruh penggarapan album ini sesungguhnya hanya menggunakan jadwal studio sebanyak 52 hari. Ada pun kurun waktu sekitar 16 bulan itu termasuk dihabiskan untuk mengumpulkan biaya dari para donatur (selain dari Pontjo),latihan dan menulis materi lagu hingga menunggu jadwal studio kosong ketika Tri Angkasa digunakan oleh pihak lain .

Proyek ini betul-betul menguras energi dan stamina. Gipsy yang terdiri dari Keenan,Roni,Abadi,Chrisye dan Oding tidak tampil sendirian.Sederet pemusik lainnya mendukung performa mereka di bilik rekam yang sesak dan sempit itu .AdaTrisutji Kamal,pianis yang juga ikut membuat arransemen.Kelompok Saraswati Bali yang dipimpin I Gusti Kompyang Raka, juga ada paduan suara Rugun Hutauruk dan Bornok Hutauruk serta sederet chamber music yang terdiri atas Fauzan,Suryati Supilin,Seno pada biola.Sudarmadi pada cello,Amir Katamsi pada kontra bas,Suparlan pada flute serta Yudianto pada oboe dan clarinet.

Rekaman Guruh Gipsy fase pertama berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan berhasil menyelesaikan sebanyak 4 buah komposisi yaitu Geger Gelgel,Barong Gundah,Chopin Larung dan sebuah komposisi yang belum diberi judul tapi kemudian tidak jadi dimasukkan dalam album.Karena dianggap kurang layak dimasukkan ke dalam album Guruh Gipsy.

Lalu rekaman Guruh Gipsy fase 2 berlangsung  dari Mei hingga Juni 1976 yang menghasilkan 3 lagu masing masingDjanger 1897 Saka,Indonesia Maharddhika dan Smaradhana.
Pada fase ini ada 3 komposisi yang direkam lagi dan disempurnakan yaitu Barong Gundah,Chopin Larung dan Geger Gelgel.

Menurut peñata rekamannya Alex Kumara , bahwa dalam proses perekaman “Indonesia Maharddhika” dan “Geger Gelgel” termasuk sulit penggarapannya secara teknis,karena begitu banyak bunyi-bunyian yang harus direkam  serta jumlah pemainnya yang mencapai 25 orang hingga studio berukuran 50 meter persegi terasa begitu sesak dan pengap.
Namun,kendala ini tak membuat satu pendukung pun yang menyerah.Mereka bagaikan pejuang yang tengah berjuang di medan laga.
Penempatan microphone pun harus tepat di tengah sesaknya studio Tri Angkasa.

Lagu “Indonesia Maharddhika”misalnya membutuhkan proses dubbing berupa pengisian suara gitar elektrik ,keyboard,piano elektrik dan synthesizers sebanyak 200 kali.Sesuatu yang pasti tak akan ditemui pada proses perekaman di zaman sekarang yang telah didukung teknologi mutakhir.
“Beruntunglah pemusik sekarang yang tertolong oleh kemudahan teknologi.Dulu saat harus mengadopsi banyak bunyi-bunyian keyboard dalam berbagai layer harus melakukan overdub ratusan kali”jelas Abadi Soesman yang terampil memainkan miniMoog synthesizers.
Keenan Nasution dan Chrisye menjadi vokalis utama dalam Guruh Gipsy.Keenan membawakan Indonesia Maharddhikadan Geger Gelgel.Chrisye menyanyikan Chopin Larung dan Smaradhana.Sementara pada lagu “Djanger1897 Saka”dinyanyikan secara bergantian oleh Keenan dan Chrisye.
Album Guruh Gipsy ini  lalu dilepas ke masyarakat dan dijual seharga Rp 1.750 yang disertai semacam scrap book yang  dimaksudkan untuk bertutur perihal ikhwal asal-usul lagu dan proses kreatif yang menyertai penggarapan Guruh Gipsy.
Sampul album Guruh Gipsy berlatar warna coklat tua dengan tagline : kesepakatan dalam kepekatan.Maksudnya album ini merupakan sebuah karya yang dihasilkan dari sebuah kesepakatan di dalam masa yang penuh kepekatan.

Lirik lagu seperti “Geger Gelgel” sebetulnya adalah bentuk keprihatinan Guruh sebagai penafsir lirik terhadap keadaan negeri tercinta ini.Simaklah liriknya ini :

Dulu di Gelgel pernah geger
namun tak segeger hatiku
Hasrat hati ingin membeber
segala peri-laku palsu
Degup jantung irama Batel
bagai derap pasukan Gelgel
Menentang penjajah angkara
penindas hak dasar manusia
Wahai kawan nyalangkan matamu
Simaklah dalam babad moyangmu
Di Gelgel pernah geger
semangat suci luber
Kepasuan tersebar
Orang batil tercecer-cecer
Geger Gelgel – Gelgel geger, di Gelgel geger
Hatta nasib rakyat jelata
yang bukan ahli berbicara

Tapi hatinya bersuara
menuntut hak alam merdeka
Kaum sudra dipermainkan
oleh muliawan gadungan
Hati tercekam suasana
ngeri waswas meraja-lela
Wahai kawan jangan engkau lengah
Ketidakadilan harus musnah
Singkirkan cadar ragu
singsingkan fajar baru
Mari kita bersatu
du dalam setiap nafasmu
Menyingkap dan menelanjangi adegan palsu
membahas sangkakala
menyibak mega raya
Menyongsong bahagia
moga sirna duka derita
janji Sang Hyang Maheswara niscaya ‘kan nyata

Demikian juga lagu “Chopin Larung” dan “Djanger 1897 Saka” yang menyitir tentang kontaminasi budaya yang terjadi di kantung kantung budaya Indonesia seperti di Bali.Simaklah lirik “Djanger 1897 Saka” dibawah ini :

Dulu memahat buat menghias pura (-puri)
dulu menari dengan sepenuh hati
Sekarang memahat untuk pelancong mancanegari
Sekarang menari turut cita turis luar negeri
Tari Legong jaman masyhurnya di Saba (-Kedaton)
dipersingkat demi selera penonton
Wingit barong dan tari keris sering sekedar tontonan turis
kekhusukan upacara melins sering terganggu jepret lampu blitz.
Onde-onde dari Cisalak, berkonde Jawa rambut disasak
Ondenya masakan Semarang, konde sasakan mode sekarang
Art shop megah berleret memagar sawah ( Cak he he )
Cottage mewah berjajar dipantai indah
Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi
Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri
Boleh saja bersikap selalu ramah (-tamah)
bukanlah berarti bangsa kita murah
Kalau kawan tak hati-hati bisa  punah budaya asli
Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi
(harga diri tak ada lagi maka tak dapat berbangga hati)

Selain itu ,pada sampul Guruh Gipsy tertera kaligrafi Dasabayu, yang terdiri atas 10 aksara Bali dengan arti tertentu yaitu  I-A (kejadian, keadaan), A-Ka-Sa (kesendirian,, kekosongan), Ma-Ra (baru), La-Wa (kebenaran), dan Ya-Ung (sejati).

Menurut Guruh Soekarno Putera,himpunan dari kesepuluh aksara itu pada zaman dahulun kala di Bali memberikan semacam  mukjizat bagi yang mempercayainya. Secara keseluruhan aksara-aksara itu bermakna bahwa dengan keadaan yang kosong barulah akan timbul kebenaran yang sejati.
Menariknya lagi,Guruh yang terpengaruh Ronggowarsito mengabadikan nama-nama personil Guruh Gipsy dalam barisan lirik lagu “Indonesia Maharddhika” :

Om awignam mastu
DING Aryan ring sasi karo
ROhini kanta padem
NIshite redite pratama
KIlat sapte tusteng padem
NANte wira megawi plambang
Aku dengar deru jiwa
BA dai badai mahaghora
DI Nusantara Raya
Cerah gilang gemilang
Harapan masa dating
Rukun damaimulia
Indonesia tercinta
Selamatsejahtera
GUnung langit samudera
RUH semestamemuja
Rukun damai mulia
Indonesia tercinta

Menjelang akhir tahun 1976  album Guruh Gipsy dirilis ke pasaran.Tapi tak semua orang mengenal dan menyimak karya kolosal ini.Namun siapa sangka, tiga  dasawarsa berselang ,album Guruh Gipsymenjadi album yang paling dicari-cari orang,Bukan hanya di Indonesia,melainkan juga di berbagai belahan dunia termasuk Amerika,Inggeris hingga Jepang.



Bahkan beberapa radio di Kanada,Swiss dan Belanda memutar Guruh Gipsysekaligus mengulasnya dalam apresiasi musik yang mendalam.Pada akhirnya Guruh Gipsy menjadi salah satu milestone perjalanan musik Indonesia.Tak berlebihan jika album ini diibaratkan album “Sgt Pepper’s Lonely Heart’s Club Band” nya The Beatles.Sebuah album yang membuat revolusi dalam musik pop.
Revolusi musik pop di Indonesia itu bermula pada album Guruh Gispy itu.

(Tulisan ini merupakan nukilan dari buku Alm. Denny Sakrie tulis tentang kiprah musik “Anak Anak Pegangsaan” yang ditebitkan dalam buku "100 TAHUN MUSIK INDONESIA") -tribute to Denny Sakrie-

Sumber

Musisi Indonesia memang selalu mempunyai ide untuk menciptakan kreasi musik.kali ini Band yang di gawangi oleh  Iga, Tj, Marco dan juga Gerald Hiras Situmorang. masuknya Gerald Hiras Situmorang cukup menjadi perhatian di sini karena Gerald awalnya memang salah satu gitaris berbakat yang sering berkerjasama dengan Indra Lesmana, Tohpati , dan Dewa Budjana.

Secara Musikalitas yang perlu di acungi jempol di sini adalah mereka benar-benar menggunakan lirik bahasa sastra Indonesia berbeda dengan kebanyakan Musik Indie Indonesia ,yang kerapkali menggunakan bahasa Inggris dalam lagu mereka. Atau mungkin sebenarnya pesan yang ingin di sampaikan dari lagu dan musik Barasuara salahsatunya adalah penggunaan bahasa Indonesia dengan mempopilerkannya melalui lagu.

Aransemen lagu  Barasuara pun cukup unik dengan iringan gitar yang lebih cenderung ke 'Electronic rock ' yang mengingatkan saya akan aransemen dari manic street preacher namun tetap menyisipkan sisi blues- rock,adapun mengenai vokal yang menjadi hal unik di sini adalah vokal yang menunjukan paduan suara kombinasi vokalis membuat pendengar berpetualang dalam simfoni musik yang di balut dengan sastra Indonesia yang baik. Overall menurut saya band Barasuara bisa jadi bahan referensi mengenai bagaimana sebuah band Indonesia membuat para pendengarnya berpetualang dalam simfoni musik Sastra Indonesia. (Yoda/2015)
Older Posts

My Youtube Playlist

About


Hello, There!

Blog ini dibuat sepuluh tahun lalu tepatnya di tahun 2010 ketika admin masih Kuliah tingkat awal, Sepuluh tahun berlalu berawal dari belajar mengenai tata kelola blog yang baik dalam bentuk HTML dan CSS meskipun masih belajar, mohon maaf jika masih ada beberapa artikel yang bukan merupakan original buatan dari admin ,dimana disadur dari beberapa portal web namun tetap mencantumkan sumber artikel bersangkutan



LET’S BE FRIENDS

Trending

Tata Kelola Keuangan untuk UMKM

Labels

  • Bisnis
  • Ekonomi
  • inspirasi
  • Meetthepeople
  • Motivasi
  • Musik
  • Sejarah
  • Sosial Politik
  • Teknologi

YouTube channel

youtube image

Instagram

@INSTAGRAM
Created By SoraTemplates | Distributed by GooyaabiTemplates